Penggunaan kapur untuk bahan pembantu proses pemurnian nira tebu sudah diawali sejak lebih dari 300 tahun yang lalu dan sampai dengan saat ini belum ada bahan lain yang bisa menggantikannya. Batu kapur atau batu gamping diambil dari gunung-gunung gamping yang tersebar di berbagai daerah. Komponen utama batu gamping adalah calcium carbonate (CaCO3). Calcium carbonate kemudian dipanaskan dengan suhu sekitar 1200 derajat Celcius sehingga didapatkan kapur tohor dengan rumus kimia CaO. Reaksi peruraian yang terjadi adalah sebagai berikut :
Proses diatas sering disebut dengan proses calcination dan biasanya dilakukan dalam lime kiln.

Kapur tohor kemudian direaksikan dengan air sehingga didapatkan calcium hidroksida atau susu kapur ( Ca(OH)2) yang berguna dalam proses pemurnian nira mentah. Berikut adalah reaksi yang terjadi :
Reaksi diatas sering disebut dengan reaksi pemadaman karena selama reaksi akan dilepaskan panas sekitar 15,54 Kcal. Proses ini juga sering disebut proses hidrasi atau slaking.

Calcium hidroksida disebut juga susu kapur karena secara fisik calcium hidroksida berbentuk seperti emulsi susu yang halus. Kehalusan dari emulsi kapur sangat diharapkan karena reaksi yang sebenarnya terjadi dalam fase ion dimana kecepatan pembentukan ion dipengaruhi oleh besarnya (kehalusan) dari partikel-partikel hidroksida kapur. Selain itu, kehalusan susu kapur juga dapat menghindari kemungkinan terjadinya alkalinitas yang amat tinggi serta suhu yang tinggi di suatu reaktor.

Dalam pembentukan susu kapur, kapur tohor diemulsikan dalam air sampai suatu derajat kepekatan tertentu sesuai dengan pabriknya. Di PG Sulfitasi, susu kapur disiapkan dengan kepekatan antara 5-7 derajat Be (setara dengan 45-65 gr CaO/liter).

Susu kapur apabila diberikan kepada nira akan membentuk suatu kapur yang aktif yang dapat bereaksi (berikatan) dengan asam-asam dan kotoran yang terdapat dalam nira sehingga terjadi penetralan dan pembentukan endapan yang mudah dipisahkan.

Sementara itu, ada PG yang memberikan kapurnya tidak dalam bentuk susu kapur tetapi dalam bentuk calcium sacharat yang merupakan suatu ikatan antara kapur dan sukrosa. Cara pembuatannya adalah dengan mencampurkan susu kapur dengan nira sedemikian sehingga terbentuk ikatan antara kapur dengan sukrosa.

Batu kapur dikatakan baik dan memenuhi syarat apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Menurut P3GI, kapur tohor dikatakan baik dan memenuhi syarat apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Daya pemadaman kapur tohor ditentukan dengan acuan sebagai berikut :

Susu kapur dikatakan baik dan memenuhi syarat apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Referensi : Soejardi. 1972. Pengetahuan Laboratorium : Bahan-Bahan Pembantu Untuk Pabrik Gula. LPP Yogyakarta

About these ads